Setiap tanggal 10 Juni, Indonesia memperingati Hari Media Sosial (Medsos) Nasional. Peringatan yang digagas oleh Handi Irawan sejak tahun 2015 ini bukan sekadar ajang perayaan eksistensi di dunia maya, melainkan sebuah pengingat penting akan etika dan tanggung jawab dalam berinteraksi digital. Di era di mana kita menghabiskan waktu berjam-jam untuk menatap layar, peringatan ini membawa pesan krusial: Gunakan Jarimu untuk Kebaikan, Bukan Kebencian.
Media Sosial adalah Alat, Bukan Tujuan
Media sosial sejatinya adalah alat (tools). Ia bisa menjadi pedang yang melukai atau jembatan yang menghubungkan. Sayangnya, tidak jarang kita melihat media sosial berubah menjadi arena konflik, tempat penyebaran hoaks, serta ajang ujaran kebencian (hate speech) yang merusak mental. Hari Media Sosial mengajak kita kembali pada tujuan awal: berbagi inspirasi dan menyebarkan konten positif, edukasi dan meningkatkan literasi digital, dan membangun relasi positif.
Mengapa Harus Kebaikan?
- Dampak Jangka Panjang: Sebuah unggahan atau komentar mungkin hilang dalam hitungan detik, tetapi jejak digital (digital footprint) abadi. Komentar positif bisa memotivasi seseorang, sementara komentar negatif bisa berdampak trauma dan bisa merusak citra diri sendiri.
- Membangun Komunitas, Bukan Musuh: Sosial media seharusnya mempermudah kita bertemu teman lama atau menemukan komunitas baru, bukan justru menyerang lawan dengan paham yang berbeda dan memperbanyak musuh digital.
- Kesehatan Mental: Menjadikan medsos tempat yang menyenangkan akan menjaga kesehatan mental diri sendiri dan orang lain. Sebaliknya, paparan kebencian terus-menerus memicu stress, kecemasan, bahkan trauma.