Para peserta tidak hanya melihat proses membatik, tetapi juga berkesempatan mencoba menggunakan canting. Iptu Sugeng Budi Santoso selaku ketua rombongan mengaku terkesan melihat hasil karya batik khas Majapahit yang dikembangkan melalui program CSR PT PRIA. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru sekaligus membuat peserta lebih memahami bahwa proses membuat batik membutuhkan ketelitian dan kesabaran.
Hal serupa disampaikan Ibu Vietri, salah satu peserta kunjungan yang juga merupakan penggemar dan kolektor batik. Setelah mencoba menggambar menggunakan canting, ia merasakan sendiri bahwa membatik bukan pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan ketelitian untuk menghasilkan motif yang rapi dan indah.
Dalam pengembangannya, Batik Djaka juga mendapat pendampingan dari Ki Bagong Priyatma selaku pengajar dan kreator batik. Eksplorasi motif dilakukan dengan mengangkat potensi warisan budaya Majapahit, sehingga batik tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga membawa cerita tentang budaya dan sejarah daerah.
Apresiasi terhadap hasil karya tersebut juga datang dari tamu mancanegara. Produk batik premium hasil program CSR PT PRIA pernah mendapat perhatian Christian Susan, utusan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO). Ia menilai batik tersebut memiliki kualitas yang sangat baik dan menyampaikan harapan agar pengembangannya dapat semakin diarahkan pada penggunaan material yang lebih ramah lingkungan, termasuk menuju proses yang lebih organik.
Peringatan Hari Batik Nasional menjadi pengingat bahwa menjaga batik bukan hanya tentang mengenakan kain batik, tetapi juga menghargai proses, cerita, keterampilan, dan masyarakat yang berada di baliknya. Batik merupakan warisan budaya yang terus berkembang, sekaligus ruang untuk mempertemukan kreativitas dengan kepedulian terhadap lingkungan.