Di balik rutinitas operasional industri yang padat, PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA) konsisten menghidupkan suasana Ramadan dengan cara yang hangat dan religius. Setiap malam di bulan suci, perusahaan rutin menyelenggarakan Shalat Tarawih berjamaah yang diikuti oleh berbagai elemen masyarakat dan internal perusahaan. Kegiatan ini bukan sekadar ibadah rutin, melainkan menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi antara manajemen, pekerja, dan warga sekitar.
Sinergi Tanpa Sekat: Karyawan dan Warga Menyatu
Salah satu keunikan dari kegiatan Tarawih di PT PRIA adalah pesertanya yang beragam. Masjid perusahaan tidak hanya diisi oleh karyawan Shift 2 yang sedang bertugas, tetapi juga menjadi titik kumpul bagi karyawan yang tinggal di sekitar area perusahaan dan warga masyarakat sekitar yang menyambut baik keterbukaan perusahaan dalam memfasilitasi ibadah bersama. Bagi karyawan yang bekerja shift 2, adanya fasilitas Tarawih di area kerja memberikan ketenangan batin. Di tengah tanggung jawab profesional, mereka tetap dapat menunaikan kewajiban ibadah tanpa harus meninggalkan lingkungan perusahaan.
Menciptakan Lingkungan Kerja yang Humanis
Manajemen PT Putra Restu Ibu Abadi meyakini bahwa keseimbangan antara aspek profesional dan spiritual sangatlah penting. Dengan dibukanya pintu perusahaan bagi warga sekitar untuk beribadah bersama, PT PRIA ingin menegaskan bahwa kehadiran perusahaan harus membawa manfaat nyata, tidak hanya secara ekonomi tetapi juga sosial-religius. “Kegiatan ini adalah wujud syukur kami. Kami ingin menciptakan harmoni dimana karyawan merasa didukung ibadahnya dan warga sekitar merasa menjadi bagian dari keluarga besar PT PRIA,” ujar perwakilan manajemen dalam sebuah kesempatan.
Suasana Khidmat dan Kekeluargaan
Setiap malam, suasana khidmat menyelimuti area perusahaan. Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an bersahutan dengan semangat kebersamaan. Tak jarang, setelah ibadah usai, momen ini dilanjutkan dengan dialog ringan antara karyawan dan warga, yang semakin mengikis batasan antara “industri” dan “pemukiman”. Tradisi ini membuktikan bahwa kemajuan sebuah perusahaan tidak hanya diukur dari produktivitas mesin, tetapi juga dari kualitas hubungan manusiawi yang dibangun di dalamnya.