Fenomena Bediding: Menggigil di Tengah Kemarau

PT Putra Restu Ibu Abadi > Informasi > Informasi > Fenomena Bediding: Menggigil di Tengah Kemarau
12 Minute

Fenomena Bediding: Menggigil di Tengah Kemarau

Pernahkah kita merasakan malam atau pagi hari di tengah musim kemarau terasa begitu dingin, bahkan lebih dingin daripada saat musim hujan? Jika iya, kita sedang mengalami bediding, sebuah fenomena alam yang jamak terjadi di Indonesia, khususnya di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Bediding berasal dari bahasa Jawa yang merujuk pada fenomena alam di mana suhu udara terasa lebih dingin dari biasanya, yang terjadi selama puncak musim kemarau. Fenomena ini menjadi perbincangan hangat setiap tahun karena kontrasnya suhu ekstrem antara siang dan malam. Menurut BMKG, ini adalah hal yang wajar terjadi sebagai bagian dari dinamika cuaca di puncak musim kemarau. 

Mengapa musim kemarau justru terasa dingin? Secara ilmiah, Bediding terjadi karena beberapa faktor meteorologis. Berdasarkan penjelasan BMKG, saat puncak kemarau (biasanya Juli–September) bediding terjadi karena beberapa faktor dominan:

  1. Angin Monsun Australia: Pada bulan Juli, Australia sedang mengalami puncak musim dingin. Angin dari wilayah tersebut mengalir menuju Asia, melewati Indonesia, membawa udara dingin dan kering.
  2. Langit Cerah (Minim Awan): Karena jarang hujan, langit cenderung bersih. Saat siang, radiasi matahari langsung memanaskan bumi. Sebaliknya, saat malam, karena tidak ada awan yang menahan panas, radiasi yang diserap bumi selama siang hari dilepaskan kembali ke atmosfer secara maksimal. Akibatnya, permukaan bumi menjadi sangat dingin saat malam hingga pagi.
  3. Keringnya Udara: Rendahnya kelembapan udara membuat suhu permukaan tanah lebih cepat turun.

Fenomena ini paling terasa di Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara Timur (NTT), wilayah yang berada di selatan khatulistiwa.

Bediding dan Dampaknya

Fenomena Bediding biasanya mulai terasa pada bulan Juli hingga awal September. Meskipun fenomena ini wajar, suhu dingin yang ekstrem dapat mempengaruhi kesehatan, terutama bagi tubuh yang tidak terbiasa. Beberapa dampak yang sering muncul akibat bediding antara lain:

  • Gangguan Pernapasan: Suhu dingin dapat memicu sesak napas atau pilek.
  • Kesehatan Kulit: Kulit menjadi lebih kering dan pecah-pecah.
  • Gejala Flu: Risiko terkena demam, batuk, dan flu meningkat karena tubuh berusaha beradaptasi dengan perubahan suhu drastis. 

Cara Mengatasi Bediding

Untuk menghadapi fenomena ini, langkah-langkah sederhana dapat dilakukan:

  1. Menggunakan pakaian hangat, tebal atau jaket saat malam atau pagi hari.
  2. Menggunakan selimut tebal saat tidur.
  3. Menjaga daya tahan tubuh dengan mengonsumsi air hangat dan makanan bergizi.
  4. Menggunakan pelembap kulit agar tidak kering. 

Bediding adalah bukti betapa dinamisnya iklim dan alam di Indonesia. Ia adalah jembatan alam yang unik, memaksa kita merasakan sensasi “musim dingin” di tengah-tengah panasnya musim kemarau di Indonesia. Meski terasa tidak nyaman, fenomena ini adalah siklus tahunan yang akan berlalu seiring berakhirnya puncak musim kemarau. 

Fenomena bediding juga menjadi pengingat penting bagi seluruh insan PT PRIA untuk selalu menjaga kesehatan dan keselamatan selama beraktivitas. Sejalan dengan budaya perusahaan yang mengutamakan aspek Health, Safety, and Environment (HSE), setiap karyawan didorong untuk menyesuaikan diri dengan kondisi cuaca, menggunakan alat pelindung diri (APD) sesuai kebutuhan, menjaga kebugaran tubuh, serta saling mengingatkan dalam menerapkan perilaku kerja yang aman. Dengan kepedulian terhadap kesehatan, disiplin dalam menjalankan prosedur keselamatan, dan semangat saling menjaga, PT PRIA terus membangun budaya kerja yang produktif, tangguh, dan berkelanjutan demi memberikan pelayanan terbaik sekaligus melindungi seluruh insan perusahaan dan lingkungan. 

Sumber Artikel:

  1. Halodoc: Mengenal Fenomena Bediding, Udara Terasa Dingin di Musim Kemarau (2024).
  2. Kompas.com: Mengenal Fenomena Bediding dan Daftar Wilayah Terdampak (2021).
  3. BPBD Klaten: Mengenal Fenomena Udara Dingin ‘Bediding’ (2024).
  4. BMKG/Staklim Sumsel: Fenomena Udara Dingin (Bediding) Pada Musim Kemarau (2023).
  5. UNAIR News: Dosen UNAIR Sebut Fenomena Bediding Bisa Menimbulkan Gangguan Pernapasan (2025).
  6. CNBC Indonesia: Langit Tak Tertutup Awan Bikin Suhu Dingin Bediding, Ini Penjelasannya (2025).

PT Putra Restu Ibu Abadi (PRIA) merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengelolaan limbah di Jawa Timur. Kami menyediakan layanan pengelolaan limbah B3 dan non-B3 terintegrasi mulai dari pengangkutan, pengumpulan, pemanfaatan, dan pengolahan. Hubungi call center kami untuk konsultasi dan mendapatkan penawaran terbaik lebih lanjut untuk kebutuhan perusahaan anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *